Dalam proses menghafal Al Qur’an, seorang terlebih dahulu membaca teks Al Qur’an berulang ulang untuk bisa sampai hafal diluar kepala. Proses ini memerlukan kesabaran ketelitian dan ketekunan. Jika sudah betul betul hafal diluar kepala, dia tak bisa berhenti begitu saja, dia harus terus takrir, muraja’ah, mengulang apa yang telah dia hafalkan sepanjang hidup. Jika tidak, bisa bisa ayat ayat yang telah dia hafalkan dengan susah akan lepas kembali, bagaikan unta yang sudah ditambat tapi jarang di tengok, dia akan mudah melepaslan diri. Ketika hafalan Al Qur’an sudah betul betul mantap di luar kepala, mulutlah yang memegang kendali. Ketika Al Qur’an mulut terus berkomat kamit nyaris tanpa mengandalkan kepada otak, Teks teks Al Qur’an meluncur begitu saja dari mulut seakan mulut telah menemukan jalannya sendiri walau jalan itu berliku, banyak tikungan, banyak ayat yang mempunyai kemiripan redaksi. Perhatikan bagaimana seorang yang membaca surah al Fatihah, dia tak perlu lagi meng ingat ingat urutan ayat ayatnya, Demikian juga seorang hafizh yang mahir yang tengah membaca Al Qur’an dalam acara sima’an, dia dengan lancarnya membaca ayat ayat suci tanpa jeda, tanpa kikuk, bahkan ketika pikirannya menerawang kemana mana dia terus melaju tanpa henti. Ayat ayat yang tadinya menempel di otak menempel juga di mulut. Itulah tingkat kemahiran dalam menghafal Al Qur’an. ( ASM).